Senin, 09 Juli 2012

LILIN YANG TERBAKAR


        Sesuatu yang paling kunikmati saat listrik padam adalah sewaktu bunda membakar lilin di ruang tengah. Saat sumbu lilin mulai terbakar dengan api kecil yang bergoyang – goyang lucu, bunda memanggil kami kelima anaknya untuk berkumpul memutari sebatang lilin yang dibakar bunda tadi. Setelah kelima anaknya berkumpul, bunda mengambil tempat diantara kami dan mulai bercerita. Cerita-cerita bunda sarat akan makna kehidupan, bisa jadi kami dibesarkan bunda dengan dongeng-dongengnya. Tetapi aku dan kakak-kakakku selalu kagum pada cerita-cerita bunda.

            Sekarang kakak-kakakku telah menikah dan tinggal diluar kota, tinggal aku sebagai anak bungsu yang masih setia mendengarkan cerita-cerita bunda. Mala mini listrik kembali padam. Telah tampak batang-bantang sinar dari ruang tengah. Nampaknya bunda telah membakar salah satu lilinnya.
“Alisya……” Bunda memanggilku, segera aku ke ruang tengah, duduk didekat menatap bunda.
“Bunda akan cerita apa mala mini?”
“Tentang lilin, anakku”
“Kenapa lilin, Bunda?”
“Lilin berarti penerang bagi para pendoa dimalam yang kudus,
Lilin berarti cahaya harapan dikelamnya malam,
dan lilin bisa berarti cinta bagi seseorang”
“Cinta?” Seperti ada yang bergemuruh dalam dadaku,
“Biar bunda ceritakan sesuatu yang sesuai dengan usiamu”
Aku hanya mengangguk dan duduk bertemankan lilin yang seolah menjadi jam pasir, tak sabar menunggu bunda bercerita.
“Di sebah kota, ada seorang pengrajin lilin, dia mampu membentuk lilin menjadi berbagai macam rupa. Karya-karyanya disegani oleh semua orang”
 Bunda terus bercerita tentang lilin-lilin istimewa yang dibuat oleh pengrajin. Lilin-lilin ciptaannya bukan hanya untuk dibakar saaat listrik padam seperti saat ini, tetapi juga menjadi patung-patung yang berjejer di galeri seni.
“Sang Pengrajin ternyata jatuh cinta pada Aurin, putri pemilik galeri yang memajang karya-karya Sang Pengrajin. Diam-diam Aurin pun menaruh hati pada Sang Pengrajin, dia mengagumi berbagai macam karya Sang Pengrajin.
Hingga tibalah saatnya Aurin berulang tahun, Sang Pengraji n mendapatkan undangan khusus dari Aurin untuk menghadiri pesta ulang tahunnya minggu depan.
Seminggu kemudian, datanglah Sang Pengrajin ke tempat Aurin dan memberikan kado istimewa, kamu mau tahu apa itu?”
“mmhhh…………. Mungkin patung Aurin yang dibuat dari lilin”. Bunda malah terkekeh mendengar jawabanku.
“Mungkin Aurin berpikiran sama sepertimu saat itu  Alisya, karena dia kecewa saat membuka kado dari Sang Pengrajin”
“Loh memangnya Sang Pengrajin kasih kado apa bunda?”. Aku menatap bunda dengan serius dan rasa penasaran seperti seorang anak pecinta dongeng, benar-benar tak sesuai dengan umurku yang memasuki  masa remaja. Api kecil di depanku terus bergoyang membakar lilin, benar-benar seperti jam pasir yang memangkas waktu dengan cepat.
“Kado dari Sang Pengrajin adalah sebatang lilin berukuran agak besar yang dimasukkan ke dalam kotak, dibungkus kertas berwarna-warni, dan dibalut pita yang bersimpul”  
“Hanya sebatang lilin bunda?”
“Tidak, Alisya. Ada selembar kertas kecil di dalam kotak lilin itu. Isinya beberapa baris pesan untuk Aurin.
‘Rasakanlah cinta dalam kegelapan, karena cinta tak pernah melihat, ia bertandang kedalam setiap hati manusia tanpa terkecuali.’
Aurin lalu berpikir dan dia benar-benar mematikan lampu kamarnya. Dalam kegelapan, Aurin menyalakan lilin dari Sang Pengrajin. Aurin kembali membaca pesan dari Sang Pengrajin dengan cahaya sebatang lilin
‘Bersabarlah untuk cinta, karena cinta membakar hatimu perlahan seperti api kecil yang membakar sumbu lilin.’
Entah apa maksudnya, tetapi saat Aurin melihat kerlip cahaya yang perlahan melelehkan lilin, nampak sesuatu yang berwarna kekuningan menyembul dari dalam lilin. Aurin bakar habis lilin itu, ternyata sebuah liontin emas indah tersimpan dalam sebuah lilin yang tak istimewa”.
“Senangnya jadi Aurin ya bunda…”
“Alisya, buatlah kisah cintamu sederhana, tapi dengan cinta yang istimewa”.
Cerita bunda berakhir, lilin dihadapanku masih bergoyang tak tentu hingga akhirnya padam menyisakan sepotong sumbu yang tak sempat terbakar.

-Cahya L Minos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar