Minggu, 15 Juli 2012

AKU,KAMU DAN KERETA API BOUGENVILLE (part II)

Kembali,wajah matahari mulai memudar,di bayangi langit senja di  kaki langit di jalur rel kereta Bougenville.

“ Cepat cakra…..!!!” teriak Ranti,saat siulan  kereta itu   sudah  mulai dekat
“ ia tunggu,batang mentengnya tersangkut Ran dir elnya….!” Jawabnya dalam kepanikan




Suara  gemuruh itu semakin keras mengisi rongga telinga,suara  gadis kecil itu  mulai tenggelam dalam deru mesin itu.

“udah biarin aja Cakra,nti kita cari lagi”  Ranti kecil  sekuat tenaga menariknya dari tengah rel
“ia Ran tunggu….!” Cakra bersikeras untuk mendapatkan kembali buah menteng yang melekat kuat pada batang yang tersangkut dir el kereta itu,goncangan itu semakin dekat,menimbulkan hentakan-hentakan kasar pada tanah di sekitarnya.Panas  dari mesin itu akhirnya mulai terasa.badan kecil ranti mulai bergoyang-goyang menari  tak  beraturan.

“ Cakra……….!” Pekik Ranti panik “ udah ,tinggalin buahnya….!”aku berteriak,sampai-sampai kerongkongannya kering  di penuhi debu
“ Ia,tolong……….!” pekik Cakra seraya memandang  ke arah Ranti yang sedang ketakutan,tapi selanjutnya suara Cakra hilang  tertelan bunyi mesin ular besi  itu.
Wuzz………
Ranti  mundur beberapa senti
Untuk kali ini mata besarnya di pejamkan,tak mampu menyaksikan pemandangan yang ada  di hadapannya,tapi  yang pasti  Rantime rasakan kakinya basah  dan lengket,entah oleh apa.
Gemuruh dan guncangan itu mulai berkurang lalu perlahan-lahan hilang bersama raibnya ekor raksasa itu.
Ranti belum berani membuka matanya,telinganya  hanya  berusaha mencari-cari suara Cakra.Ranti  tidak berani membayangkan  hal yang buruk yang menimpa sahabatnya itu.
Lama tak ada suara,hanya gemerisik dedaunan dari pohon-pohon yang tumbuh di sisi jalur kereta itu.Hatinya  berusaha mencari tahu kondisi  cakra dari bisikan angin yang sedang asik bergunjing di sekitarku.

“ Cak….cakra…..!”setengah berbisik Ranti memanggil nama Cakra

Hening,masih sang angin yang mengambil alih situasi ini.
Lalu tiba-tiba,sebuah suara lemah dengan rintihan kesakitan terdengar di antara gunjingan angin itu

“ Ran…..ranti…! “ suara seorang anak laki-laki  bergetar dalam kesakitan

Ranti mencari sumber suara di tengah kegamangan hatinya,tp ia tetap membatu di tempat ,mencoba menahan isakan saat membayangkan apa yang akan ia lihat.

“ Cakra…?” pekik Ranti dalam kesenangan tapi juga ketakutan,dan dengan perlahan-lahan mulai membuka matanya. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya,menghalanginya untuk melihat dengan jelas,dan akhirnya gambaran itu makin jelas.

Pemandangan di hadapannya  tiba-tiba  mendadak  membuat kepala Ranti  terasa berputar,membuat seluruh darah dalam tubuhnya mengalir ke  kedua matanya,Merah dan  Rantipun kehilangan kesadaran.

Bersambung..............


to part I
to part III

Tidak ada komentar:

Posting Komentar